Pemukiman Pinggir Sungai yang membahayakan

Gubernur DKI Jakarta, Basoeki Tjahya Purnama bisa jadi akan dianggap kejam. Niatnya untuk terus memindahkan pemukiman pinggir sungai mendapat banyak tentangan dari para penghuni pemukiman tersebut.

Ia dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan karena memaksa penduduk di bantaran kali untuk segera pindah dari lokasinya sekarang. Apalagi, ketegasannya diwujudkan juga dengan tindakan tegas memaksa para penghuni pinggir kali tersebut untuk pindah.

Memang tindakannya seperti tidak berperikemanusiaan terhadap mereka yang kurang beruntung. Meskipun demikian, hal tersebut memang sudah seharusnya secara konsisten dilakukan. Situasi berbagai sungai di Indonesia sudah berada dalam kondisi kritis.

Kritis dalam artian fungsi sungai sudah tidak lagi sebagaimana mestinya.

Fungsi utama sungai adalah menjadi jalan agar air bisa mengalir ke hilirnya yaitu laut. Fungsi lainnya sebagai sumber air bagi kehidupan manusia.

Kesemua fungsi ini sudah banyak yang tidak bisa diemban oleh sungai-sungai di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah maraknya pemukiman pinggir sungai.

Ada beberapa alasan mengapa pemukiman pinggir sungai berperan besar bagi rusaknya lingkungan sungai, yaitu

1. Cenderung tidak mematuhi aturan

Peraturan pemerintah sudah jelas mengenai bagaimana sungai harus diperlakukan. Peraturan tersebut menyebutkan tidak boleh ada pemukiman dalam jarak tertentu dari aliran air dan pinggir kali.

Sementara itu, banyak sekali pemukiman pinggir sungai yang sama sekali tidak mengindahkan peraturan ini. Bangunan didirikan pada berbagai tempat di daerah aliran sungai yang sebenarnya terlarang bagi berdirinya sebuah bangunan.

Hasilnya adalah sebuah kesemrawutan parah di berbagai sisi sungai. Aliran air sungai tidak lagi lancar karena terhalang oleh bagian-bagian dari bangunan pemukiman.

2. Aliran sungai terhambat

Dengan banyaknya bangunan yang bahkan menjorok ke arah sungai, banyak sungai di Indonesia yang aliran airnya tidak lancar. Mereka terhambat oleh berbagai sisi bangunan yang didirikan sembarangan.

Akibatnya mudah diduga, karena terbendung, maka aliran sungai mengecil dan akhirnya air meluap ke berbagai tempat.

3. Polusi air dan sungai

Dengan tidak tertatanya pemukiman pinggir sungai, ketersediaan lahan bagi sarana pembuangan sisa-sisa rumah tangga tidak bisa terpenuhi. Alhasil, mayoritas penduduk di pemukiman pinggir sungai mencari gampangnya saja, sampah-sampah tersebut mereka buang ke dalam aliran air.

Sungai dianggap sebagai sebuah tong sampah besar.

Hasilnya jelas terlihat. Bagi anda yang tinggal di sekitar kawasan Pintu Air Manggarai bisa melihat betapa banyaknya sampah yang ada di aliran sungai Ciliwung. Tumpukan sampah tersebut bahkan melebihi kapasitas angkut mobil pengangkut sampah.

4. Menurun dan rusaknya kualitas air dan ekosistem sungai

Dengan berbagai sampah yang bertebaran di atas dan dalam air, air menjadi kotor dan tercemar. Kualitasnya terus menurun karena kandungan banyak bahan berbahaya semakin tinggi.

Air dari sungai-sungai ini sulit untuk dijadikan air minum bagi manusia.

Selain itu hal tersebut menyebabkan air tidak bisa lagi menjadi habitat tempat hidup makhluk-makhluk sungai. Ekosistem sungai menjadi rusak berat.

Betul bahwa rusaknya lingkungan sungai bukan hanya karena pemukiman pinggir sungai. Meskipun demikian keberadaan pemukiman pinggir sungai tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai berperan besar bagi rusaknya banyak sungai di Indonesia.

Kejam, mungkin itu yang akan dilabelkan terhadap Ahok, sang gubernur Jakarta, tetapi ia melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Penataan ulang terhadap pemukiman pinggir sungai memang harus terus digalakkan di seluruh Indonesia dan bukan hanya Jakarta.

Pemukiman pinggir sungai sudah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi kehidupan di Indonesia. Kota-kota lain harus meniru usaha Ahok untuk membersihkan sungai dari hal-hal seperti ini, termasuk pemukiman pinggir sungai.

Semua demi kebaikan kehidupan kita sendiri.

Tags: